Beberapa tahun belakang ini di Jakarta dan sekitarnya sering kita jumpai yang namanya polisi 'cepek'. Pemandangan ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat yang melewati persimpangan jalan-jalan besar atau kecil ataupun jalan alternatif (jalan tikus). Bagi sebagian orang di ibukota dan sekitarnya menjadi polisi cepek menjadi ladang penghasilan atau mata pencaharian.
Di persimpangan Jl. Inpres Larangan tepatnya di Jalan Ciledug Raya bisa kita jumpai polisi cepek dengan kostum yang bervariasi setiap harinya. Misalnya hari ini dia (polisi cepek) bercostum layaknya seorang kiayi lengkap dengan lilitan sorban dikepalanya. Esok dan seterusnya silih berganti pakaian seperti : bergaya satpam, militer, seorang pekerja lengkap dengan dasinya, preman jalanan, guru ngaji, dsb. Pemandangan ini bagi masyarakat Ciledug dan sekitarnya bahkan orang yang sering melintasi jalan tersebut bukan hal baru tetapi bagi sebagian orang menjadi hal yang unik dan menghibur. Karena selain costumnya yang berganti tiap harinya tetapi dengan gaya yang unik pula. Apabila ada yang memberinya uang dia akan berjoget sambil mengacungkan jempol dan meniupkan pluitnya tanda terima kasih. Tetapi bagi pengendara yang tidak memberi dia juga berjoget tetapi dengan gaya mengacungkan telunjuk dan meniupkan pluitnya tanda protes terhadap pengendara tersebut.
Ada lagi gaya yang lain apabila berpapasan dengan aparat baik Polisi, Tentara atau yang berpakaian seperti tentara, dia akan bergaya memberi hormat layaknya hormat kepada komandannya. Karena penampilan dan gayanya yang khas dan unik itulah banyak pengendara yang melintas di daerah tersebut tidak segan untuk memberinya uang ratusan sampai ribuan rupiah. Hal ini dijadikan ladang uang bagi si polisi cepek, terlihat setiap harinya dia berada di persimpangan jalan yang menuju komplek Kembang Larangan tersebut dan sudah memiliki sebuah sepeda motor Suzuki Arashi.
Profesi ini masih dibilang wajar dibanding dengan memalak, mengemis, mencopet, dsb.
Di persimpangan Jl. Inpres Larangan tepatnya di Jalan Ciledug Raya bisa kita jumpai polisi cepek dengan kostum yang bervariasi setiap harinya. Misalnya hari ini dia (polisi cepek) bercostum layaknya seorang kiayi lengkap dengan lilitan sorban dikepalanya. Esok dan seterusnya silih berganti pakaian seperti : bergaya satpam, militer, seorang pekerja lengkap dengan dasinya, preman jalanan, guru ngaji, dsb. Pemandangan ini bagi masyarakat Ciledug dan sekitarnya bahkan orang yang sering melintasi jalan tersebut bukan hal baru tetapi bagi sebagian orang menjadi hal yang unik dan menghibur. Karena selain costumnya yang berganti tiap harinya tetapi dengan gaya yang unik pula. Apabila ada yang memberinya uang dia akan berjoget sambil mengacungkan jempol dan meniupkan pluitnya tanda terima kasih. Tetapi bagi pengendara yang tidak memberi dia juga berjoget tetapi dengan gaya mengacungkan telunjuk dan meniupkan pluitnya tanda protes terhadap pengendara tersebut.
Ada lagi gaya yang lain apabila berpapasan dengan aparat baik Polisi, Tentara atau yang berpakaian seperti tentara, dia akan bergaya memberi hormat layaknya hormat kepada komandannya. Karena penampilan dan gayanya yang khas dan unik itulah banyak pengendara yang melintas di daerah tersebut tidak segan untuk memberinya uang ratusan sampai ribuan rupiah. Hal ini dijadikan ladang uang bagi si polisi cepek, terlihat setiap harinya dia berada di persimpangan jalan yang menuju komplek Kembang Larangan tersebut dan sudah memiliki sebuah sepeda motor Suzuki Arashi.
Profesi ini masih dibilang wajar dibanding dengan memalak, mengemis, mencopet, dsb.
No comments:
Post a Comment