Sebagian kecil yang datang ke pulau yang terkenal dengan tarian kecaknya tersebut, adalah orang yang tak punya rasa takut. Itu menurut pengakuan salah seorang supir taksi yang mengantar saya. Mereka hanya ingin berlibur dan menghilangkan kejenuhan dalam bekerja. Barangkali juga mungkin mereka (para Turman) berpikir kalau kematian itu ada dimana saja dan kapan saja.
Akibat dari kejadian tersebut Bali saat ini dapat dibilang 'tertidur ayam'. Artinya masih ada pengunjung dari mancanegara pada saat-saat tertentu saja. Tidak seperti sebelum adanya kejadian meledaknya bom sampai kali kedua. Setiap saat Bali dipenuhi orang-orang dengan bahasa yang beraneka ragam. Dari mulai negeri Jiran sampai yang negeri yang terjauh sekalipun.
Hal ini juga sangat dirasakan pula oleh para pencari nafkah di pulau dengan keanekaragaman seni tradisonalnya. Salah satunya adalah penjual jasa Menicure-Pedicure, satu orang dikenakan jasanya termurahnya sebesar Rp 50.000,-. Sehari mereka bisa mendapatkan minimal 10 orang. Berarti penghasilan mereka sehari minimal Rp 500.000,- sebelum terjadi meledaknya bom yang kedua. Saat ini penghasilan mereka rata-rata menurun 50-65%.
Maka wajar saat ini pulau Dewata mengalami yang namanya tidur ayam. Tidur yang agak pulas tetapi bisa terjaga dengan suara-suara sekitarnya. (=as=/2007)
No comments:
Post a Comment