Monday, August 20, 2007

Bisa Karena Biasa

Pada zaman kebangkitan tehnologi seperti saat ini, masih banyak orang yang gagap teknologi (GAPTEK). Sebagai contoh pada salah satu kesatuan yang ada dalam KOPASSUS yang mengadakan pelatihan selama 3 hari mulai tanggal 26-28 Juli 2007. Kegiatan tersebut dimotori DetikInet bersama ICT Watch dan dibantu oleh para relawan yang sangat antusias memberikan pengetahuannya bagi anggota Sat- 81 Kopassus tersebut.

Dalam pelatihan tersebut terlihat sekali bagaimana canggung dan takut-takutnya para anggota pasukan elit tersebut untuk menyentuh barang yang ada dihadapan mereka yaitu sebuah notebook. Ternyata sebagian besar dari mereka memang baru pertama kalinya menyentuh bahkan melihat secara langsung barang yang masih relatif mahal tersebut. Wajar saja mereka terlihat seperti itu karena jangankan notebook, komputer (PC) saja mereka jarang bahkan belum sama sekali menggunakannya.

Dan ada diantara mereka juga dengan sangat kasarnya menggunakan barang yang biasa dipakai 'Tukul” tersebut dengan menekan salah satu tombol begitu kerasnya.

Seandainya mereka diberikan pilihan antara menggunakan Laptop atau berlari beberapa kilometer, mereka akan memilih berlari beberapa kilometer daripada menggunakan alat tersebut.

Memang orang bisa karena biasa, segala sesuatu yang dimiliki seseorang bukan karena orang tersebut pintar atau mahir tetapi karena biasa melakukannya.

Seperti semboyan dari Sat- 81 Kopassus “ Kami Bukan Hebat Tapi Terlatih “. Semboyan tersebut tidak jauh berbeda dengan judul pada tulisan ini. (as/2007)

Friday, July 13, 2007

First Trip to Singapura

Keberangkatanku ke Negeri yang terkenal dengan Kepala Singa nya memang terhitung mendadak. Dengan pesawat dengan no. penerbangan GA 824 aku berangkat ke negeri Marlion tersebut.

Tiba di sana waktu dijamku menunjukkan pukul 16.30 sedangkan jam bandara menunjukkan pukul 17.30 yang berarti di Indonesia memiliki perbedaan 1 jam lebih lambat dari waktu Singapura. Tujuan pertamaku setibanya di sana adalah Orchard Road. Terlihatlah Pertokoan besar dengan nama Takashimaya. Sepanjang jalan Orchard road banyak orang yang lalu lalang dan terderngar suara yang tak asing dengan telingaku, 'bahasa Indonesia'. Yang lebih menarik lagi pemandangan disana (Orchard Road) ada kelompok pengamen jalanan sambil menghibur pejalan kaki mereka juga menawarkan album musik yang mereka mainkan dalam bentuk CD. Puas di Orchard Road kita melanjutkan perjalanan ke Boat Quay.

Di Boat Quay kita makan malam sambil menikmati keindahan sungai Singapura. Karena di pinggiran sungai tersebut banyak warung makanan yang menawarkan berbagai macam khas makanan dan jenis makanan yang sebagian besar menawarkan jenis makanan laut (seafood). Disini aku terkagum pada komunitas Tuna Wicara yang menjajakan kerajinan tangan berbentuk boneka, gantungan kunci, dll. Puas aku di Boat Quay aku kembali ke hotel Golden Landmark tempat ku menginap. Sebelum ke hotel aku melihat pemandangan yang tak biasa ku jumpai di Negeri sendiri, Taksi Mercy. Kendaraan ini tak asing lagi kita jumpai di negeri Jiran tersebut.

Selain itu ada juga pertokoan yang operasionalnya 24 jam namanya pertokoan “MUSTAFA” yang menjual berbagai jenis dagangan, seperti mainan, makanan, pakaian, alat rumah tangga, elektronik, dsb.

Di Negeri yang luasnya hampir sama dengan kota Jakarta itu, juga banyak kita jumpai orangtua usia 50an yang sedang menyapu di jalanan, mencuci piring kotor di cafe dan rumah makan dan pusat perbelanjaan yang tidak kita jumpai di negeri kita. Ternyata kebijakan pemerintah Singapura adalah harus mempekerjakan mereka. Terutama jika ada apply (permintaan/pengajuan) dari mereka pemerintah wajib mengabulkan dan mempekerjakan mereka.

Selain kebijakan tersebut, ada juga kebijakan yang mengharuskan sebuah kendaraan hanya boleh dipakai tidak lebih dari 5 tahun. Setelah 5 tahun kendaraan tersebut harus diremajakan. Dampak dari kebijakan tersebut, kecil sekali tingkat polusi udaranya, yang memungkinkan orang-orang disana membuka warung makanan disepanjang trotoar jalan sekalipun itu di pinggir jalan raya.

Selama 3 hari 2 malam di Singapura rasanya aku masih kurang puas tinggal disana. Aku berharap di lain kesempatan aku bisa berkunjung ke Negeri Marlion tersebut. (as/2007)

Tuesday, March 6, 2007

Si 'RAJA TEGA' Berkedok Penolong

Pasca bencana banjir yang melanda Ibukota Jakarta dan sekitarnya masih menyisakan duka yang dalam dihati kita semua. Bagaimana tidak, sampai saat ini masih ada sekelompok orang yang enggan meninggalkan camp pengungsian, lantaran ingin kembali kerumah masih dihantui trauma, apalagi memikirkan harta milik mereka sudah hanyut terbawa air bah waktu terjadi banjir beberapa waktu yang lalu. Melihat hal itu kita hanya bisa berdoa agar tidak terjadi bencana seperti ini lagi dan menolong semampu kita untuk dapat meringankan beban penderitaan yang mereka alami. Ironisnya banyak dari para panitia yang mendirikan posko-posko bantuan tidak terketuk hatinya bahkan tanpa rasa senasib dan sependeritaan mereka bersenang-senang diatas penderitaan para pengungsi korban banjir tersebut.

Hal ini terjadi di Posko Santa Maria, Jatinegara Jakarta timur yang panitianya adalah Pengurus RT setempat pada tanggal 8 Pebruari 2007 dengan teganya diketahui oleh salah seorang pengungsi sedang makan-makan berlaukan (dengan lauk) ayam, disatu sisi para pengungsi hanya makan (nasi sekepal) sekali satu hari itupun hanya berlaukan buncis dan tempe. Pakaian pun disortir terlebih dahulu : yang jelek-jelek diberikan kepada para pengungsi sedangkan yang bagus mereka pilih untuk mereka (panitia posko). Mereka dengan asik makan-makan dan tanpa berdosa ditegur oleh salah seorang pengungsi bukannya malu malah memarahi dan mengancam pengungsi tersebut.

Tentunya kejadian ini sangat memalukan dan tidak bermoral. Seharusnya kita membantu, justru malah sebaliknya memanfaatkan moment tersebut untuk bersenang-senang (aji mumpung). Hal serupa juga pernah terjadi pada bencana banjir lima tahun lalu dan peristiwa tsunami di Aceh, dimana para panitia tidak mendistribusikan bantuan untuk para korban yang masih banyak membutuhkan bantuan tetapi malah ditimbun untuk dirinya sendiri. Kejadian ini terkuak saat ditemukan tumpukkan bantuan yang jumlahnya sangat besar disimpan dalam suatu gudang yang cukup besar. Semoga kejadian ini dapat menyadarkan kita semua dan tidak terulang kembali kejadian serupa. (ace.sy/09/02/07)