Pasca bencana banjir yang melanda Ibukota Jakarta dan sekitarnya masih menyisakan duka yang dalam dihati kita semua. Bagaimana tidak, sampai saat ini masih ada sekelompok orang yang enggan meninggalkan camp pengungsian, lantaran ingin kembali kerumah masih dihantui trauma, apalagi memikirkan harta milik mereka sudah hanyut terbawa air bah waktu terjadi banjir beberapa waktu yang lalu. Melihat hal itu kita hanya bisa berdoa agar tidak terjadi bencana seperti ini lagi dan menolong semampu kita untuk dapat meringankan beban penderitaan yang mereka alami. Ironisnya banyak dari para panitia yang mendirikan posko-posko bantuan tidak terketuk hatinya bahkan tanpa rasa senasib dan sependeritaan mereka bersenang-senang diatas penderitaan para pengungsi korban banjir tersebut.Hal ini terjadi di Posko Santa Maria, Jatinegara Jakarta timur yang panitianya adalah Pengurus RT setempat pada tanggal 8 Pebruari 2007 dengan teganya diketahui oleh salah seorang pengungsi sedang makan-makan berlaukan (dengan lauk) ayam, disatu sisi para pengungsi hanya makan (nasi sekepal) sekali satu hari itupun hanya berlaukan buncis dan tempe. Pakaian pun disortir terlebih dahulu : yang jelek-jelek diberikan kepada para pengungsi sedangkan yang bagus mereka pilih untuk mereka (panitia posko). Mereka dengan asik makan-makan dan tanpa berdosa ditegur oleh salah seorang pengungsi bukannya malu malah memarahi dan mengancam pengungsi tersebut.
Tentunya kejadian ini sangat memalukan dan tidak bermoral. Seharusnya kita membantu, justru malah sebaliknya memanfaatkan moment tersebut untuk bersenang-senang (aji mumpung). Hal serupa juga pernah terjadi pada bencana banjir